Nasihat Simbah tentang Berbakti kepada Orang Tua: Pelajaran yang Tak Lekang oleh Waktu
Ada nasihat yang mungkin terdengar sederhana, tetapi semakin kita dewasa, semakin terasa dalam maknanya.
“Jangan tunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya orang tua.”
Kalimat seperti itu sering kita dengar dari simbah, kakek, nenek, atau orang-orang yang lebih dahulu menjalani kehidupan. Dahulu mungkin kita menganggapnya sebagai nasihat biasa. Namun setelah usia bertambah, kesibukan semakin banyak, dan jarak dengan orang tua mulai terbentang, nasihat tersebut terasa berbeda.
Dalam ajaran Islam, berbakti kepada orang tua atau birrul walidain bukan sekadar tradisi keluarga. Berbuat baik kepada ayah dan ibu merupakan bagian penting dari akhlak seorang Muslim. Al-Qur’an bahkan menyandingkan perintah berbuat baik kepada kedua orang tua dengan perintah untuk menyembah Allah, salah satunya dalam QS. Al-Isra ayat 23–24.
Karena itu, nasihat simbah tentang menghormati orang tua sebenarnya memiliki pesan yang sangat dalam: selagi masih ada kesempatan, jangan pelit memberikan kasih sayang kepada ayah dan ibu.
Nasihat Simbah yang Tetap Relevan di Zaman Sekarang
Zaman memang berubah.
Dulu, anak mungkin membantu orang tua dengan bekerja di sawah, mengantar ke pasar, mengambilkan air, atau menemani mereka di rumah. Sekarang, bentuk kehidupan jauh berbeda. Anak-anak bisa bekerja di kota lain, bahkan di negara berbeda.
Komunikasi pun berubah. Dahulu orang harus menunggu surat untuk mendapatkan kabar. Sekarang, cukup membuka ponsel, kita dapat melakukan panggilan video kapan saja.
Namun satu hal tidak berubah: orang tua tetap membutuhkan perhatian anaknya.
Bukan selalu uang.
Bukan pula hadiah mahal.
Sering kali mereka hanya ingin mendengar suara anaknya, mengetahui bahwa anaknya baik-baik saja, atau merasakan bahwa dirinya masih dianggap penting.
Di sinilah nasihat simbah menjadi sangat relevan.
“Sesibuk apa pun kamu, jangan sampai lupa bertanya kabar kepada orang tua.”
Nasihat tersebut sederhana, tetapi sangat mungkin menjadi salah satu bentuk bakti yang dapat dilakukan setiap hari.
-
Hormati Orang Tua, Bukan Hanya Saat Membutuhkan Mereka
Ketika masih kecil, kita sangat bergantung kepada orang tua.
Saat lapar, kita mencari ibu.
Keitka takut, kita mencari ayah atau ibu.
Saat sakit, merekalah yang pertama kali merasa khawatir.
Ketika dewasa, keadaan perlahan berubah. Kita mulai mempunyai pekerjaan, penghasilan, pasangan, anak, dan kehidupan sendiri. Tanpa sadar, perhatian kepada orang tua bisa berkurang.
Simbah mungkin akan mengingatkan:
“Jangan hanya datang kepada orang tua ketika sedang membutuhkan sesuatu.”
Hormatilah mereka bukan karena mereka masih dapat membantu kita, tetapi karena mereka adalah orang tua yang telah memberikan begitu banyak hal dalam kehidupan kita.
Menghormati orang tua dapat dilakukan melalui hal-hal sederhana:
- berbicara dengan sopan,
- mendengarkan ketika mereka berbicara,
- tidak membentak,
- tidak mempermalukan mereka,
- memperhatikan kebutuhan mereka,
- dan menjaga perasaan mereka.
Al-Qur’an secara tegas mengajarkan agar seorang anak tidak mengatakan perkataan yang menyakiti orang tua, bahkan kata “ah” sekalipun, serta diperintahkan berbicara kepada mereka dengan perkataan yang mulia.
-
Jangan Menunggu Kaya untuk Membahagiakan Orang Tua
Ada anggapan bahwa berbakti kepada orang tua harus dilakukan dengan memberikan sesuatu yang mahal.
Padahal tidak selalu demikian.
Anak yang belum memiliki penghasilan besar pun tetap bisa berbakti.
Membantu membersihkan rumah.
Membelikan makanan kesukaan ibu.
Mengantar ayah ke suatu tempat.
Menemani orang tua berobat.
Menelepon mereka.
Mendengarkan cerita mereka.
Atau sekadar duduk bersama sambil menikmati teh sore.
Semua itu mungkin terlihat kecil bagi kita, tetapi bisa sangat berarti bagi orang tua.
Jangan sampai kita berpikir:
“Nanti kalau sudah sukses, baru saya bahagiakan orang tua.”
Sebab tidak ada yang bisa menjamin bahwa kesempatan itu akan selalu tersedia.
Orang tua mungkin tidak membutuhkan kemewahan. Yang mereka rindukan sering kali adalah kehadiran anak.
-
Belajar Mendengarkan Cerita Orang Tua
Ada satu hal yang sering terjadi ketika anak sudah dewasa.
Orang tua bercerita tentang hal yang sama berulang kali.
Tentang masa muda.
Tentang pekerjaan.
Berkaitan dengan keluarga.
Tentang pengalaman hidup.
Tentang tetangga.
Apa lagi tentang kenangan lama.
Kadang kita merasa cerita tersebut sudah pernah didengar berkali-kali.
Namun bagi orang tua, menceritakannya kembali mungkin menjadi salah satu cara mereka menikmati kenangan.
Karena itu, cobalah lebih sabar mendengarkan.
Tidak semua percakapan harus memberikan solusi.
Kadang orang tua hanya ingin didengarkan.
Simbah mungkin akan berkata:
“Kalau orang tua sedang bercerita, jangan buru-buru memotong. Dengarkan. Suatu hari nanti, kamu mungkin akan merindukan cerita itu.”
Nasihat seperti ini terasa sederhana, tetapi mengandung pelajaran tentang kasih sayang dan penghargaan terhadap waktu.
-
Jaga Ucapan kepada Ayah dan Ibu
Lidah memang tidak bertulang, tetapi ucapan bisa meninggalkan luka yang sangat panjang.
Ucapan seperti:
“Bapak tidak mengerti.”
“Ibu terlalu cerewet.”
“Jangan ikut campur.”
“Saya sudah dewasa.”
atau
“Sudahlah, saya sibuk.”
mungkin keluar ketika kita sedang lelah.
Namun bagi orang tua, perkataan tersebut bisa terasa menyakitkan.
Islam memberikan perhatian besar terhadap adab berbicara kepada orang tua. QS. Al-Isra ayat 23 mengajarkan agar seorang anak tidak membentak dan berbicara dengan perkataan yang baik kepada keduanya.
Bukan berarti seorang anak tidak boleh berbeda pendapat dengan orang tua.
Perbedaan pendapat adalah sesuatu yang dapat terjadi dalam keluarga.
Namun perbedaan tersebut sebaiknya disampaikan dengan sopan, lembut, dan penuh penghormatan.
-
Berbakti Bukan Berarti Mengikuti Semua Hal Tanpa Batas
Berbakti kepada orang tua bukan berarti seorang anak harus mengikuti setiap perintah apabila perintah tersebut bertentangan dengan ajaran Allah.
Al-Qur’an menjelaskan bahwa ketika orang tua mengajak kepada sesuatu yang bertentangan dengan tauhid, seorang anak tidak boleh mengikuti hal tersebut, tetapi tetap diperintahkan memperlakukan keduanya dengan baik di dunia.
Ini merupakan pelajaran penting.
Islam mengajarkan keseimbangan antara ketaatan kepada Allah dan penghormatan kepada orang tua.
Jadi, ketika terjadi perbedaan pandangan, seorang anak tetap dapat mempertahankan prinsip agamanya tanpa harus bersikap kasar kepada ayah dan ibu.
Berbeda pendapat tidak harus berarti bermusuhan.
-
Jangan Malu Mengucapkan Terima Kasih
Semakin dewasa, kita terkadang baru menyadari betapa besar pengorbanan orang tua.
Dulu mereka membelikan pakaian.
Membayar sekolah.
Mengantar ketika sakit.
Menunggu ketika kita belum pulang.
Bekerja ketika kita sedang tidur.
Berdoa ketika kita bahkan belum memahami arti doa.
Namun pernahkah kita benar-benar mengucapkan:
“Terima kasih, Ayah.”
“Terima kasih, Ibu.”
Tidak semua keluarga terbiasa mengucapkan kalimat seperti itu.
Padahal kalimat sederhana tersebut bisa menjadi sangat bermakna.
Jangan menunggu hari ulang tahun.
Jangan menunggu hari raya.
Apa lagi jangan menunggu acara keluarga.
Kalau hari ini kita masih dapat bertemu orang tua, katakanlah terima kasih.
-
Sisihkan Waktu untuk Pulang
Bagi anak yang tinggal jauh dari orang tua, pulang mungkin tidak selalu mudah.
Ada pekerjaan.
Ada biaya perjalanan.
Kemudian ada kesibukan.
Ada tanggung jawab keluarga.
Namun jika memungkinkan, sisihkan waktu untuk mengunjungi mereka.
Bukan karena rumah orang tua selalu megah.
Bukan karena makanan di sana selalu istimewa.
Tetapi karena ada masa ketika rumah itu merupakan tempat kita pertama kali belajar tentang kehidupan.
Simbah mungkin akan berkata:
“Pulanglah sesekali. Rumah orang tua mungkin tidak berubah, tetapi waktu terus berjalan.”
Kalimat tersebut mengingatkan kita bahwa kesempatan untuk berkumpul bersama orang tua tidak selamanya ada.
-
Perhatikan Kesehatan Orang Tua
Ketika masih muda, orang tua mungkin mampu melakukan banyak hal sendiri.
Namun usia membawa perubahan.
Penglihatan bisa berkurang.
Pendengaran tidak lagi setajam dulu.
Tubuh lebih mudah lelah.
Aktivitas yang dahulu ringan mungkin menjadi berat.
Pada masa inilah perhatian anak semakin dibutuhkan.
Berbakti dapat diwujudkan dengan membantu mereka mendapatkan perawatan, mengantar pemeriksaan kesehatan, mengingatkan jadwal obat sesuai petunjuk tenaga kesehatan, atau sekadar menemani.
Perhatian tersebut merupakan bentuk kasih sayang yang nyata.
-
Jangan Mengukur Kasih Sayang dengan Materi
Ada anak yang merasa bersalah karena belum mampu memberikan banyak uang kepada orang tua.
Padahal bakti tidak selalu dapat diukur dari jumlah uang.
Anak yang memiliki penghasilan besar tentu dapat membantu kebutuhan orang tua secara finansial. Namun anak yang belum mampu secara ekonomi tetap memiliki banyak kesempatan untuk berbuat baik.
Waktu juga merupakan bentuk pemberian.
Tenaga adalah bentuk pemberian.
Perhatian adalah bentuk pemberian.
Doa adalah bentuk pemberian.
Bahkan kesabaran ketika menghadapi orang tua yang mulai banyak membutuhkan bantuan merupakan bentuk kasih sayang.
Karena itu, jangan merasa bahwa kita tidak bisa berbakti hanya karena belum kaya.
-
Doakan Orang Tua Setiap Hari
Salah satu bentuk bakti yang paling sederhana adalah mendoakan orang tua.
Doa tidak membutuhkan biaya.
Tidak membutuhkan perjalanan.
Tidak membutuhkan waktu panjang.
Bahkan setelah orang tua meninggal dunia, seorang anak masih dapat mendoakan mereka.
Dalam ajaran Islam, doa anak saleh untuk orang tuanya termasuk amal yang tetap memberikan manfaat bagi orang yang telah meninggal sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang tiga perkara yang terus mengalir setelah seseorang meninggal, salah satunya anak saleh yang mendoakannya.
Salah satu doa yang diajarkan Al-Qur’an adalah:
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا
Rabbir hamhumā kamā rabbayānī shagīrā.
Artinya:
“Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka telah menyayangiku ketika aku masih kecil.”
Doa tersebut terdapat dalam QS. Al-Isra ayat 24 dan menjadi pengingat bahwa kasih sayang kepada orang tua tidak berhenti hanya karena mereka telah lanjut usia.
-
Ketika Orang Tua Sudah Tiada, Bakti Belum Berakhir
Ini mungkin menjadi salah satu nasihat paling dalam dari orang-orang tua:
“Selagi bapak dan ibu masih ada, sayangilah mereka. Kalau sudah tidak ada, yang tersisa adalah doa dan kenangan.”
Kehilangan orang tua mengajarkan bahwa waktu tidak dapat diulang.
Kita tidak bisa kembali ke masa ketika ibu masih memasak untuk kita.
Tidak bisa mengulang masa ketika ayah mengantar ke sekolah.
Tidak bisa meminta mereka kembali duduk di ruang tamu hanya untuk mendengar cerita sederhana.
Karena itu, jangan menunda berbuat baik.
Ketika mereka telah meninggal dunia, seorang anak masih dapat melanjutkan bakti melalui doa, menjaga hubungan baik dengan keluarga dan orang-orang yang mereka cintai, serta meneruskan kebaikan yang dahulu mereka ajarkan.
Kemenag juga menekankan bahwa doa untuk orang tua dapat menjadi bentuk bakti, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah mereka wafat.
-
Nasihat Simbah: Jangan Sampai Penyesalan Datang Terlambat
Ada satu jenis penyesalan yang sangat berat.
Bukan karena kita tidak pernah memberikan hadiah.
Bukan karena tidak pernah membawa orang tua berlibur.
Tetapi karena kita pernah memiliki kesempatan untuk berbuat baik, lalu memilih menundanya.
“Nanti saja.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Nanti telepon.
Nanti pulang.
Kemudian nanti berkunjung.
Nanti ajak makan.
Nanti minta maaf.
Apa lagi nanti membahagiakan mereka.
Masalahnya, kita tidak pernah benar-benar tahu berapa lama kata “nanti” itu masih tersedia.
Maka jika hari ini masih memiliki ayah dan ibu, manfaatkan kesempatan tersebut.
Tidak perlu menunggu menjadi orang hebat.
Tidak perlu menunggu memiliki banyak uang.
Mulailah dari hal kecil.
Tanyakan kabarnya.
Dengarkan ceritanya.
Bantu pekerjaannya.
Jaga perkataan.
Berikan perhatian.
Dan jangan lupa mendoakannya.
Berbakti kepada Orang Tua Adalah Pelajaran Seumur Hidup
Nasihat simbah mungkin lahir dari pengalaman hidup yang panjang.
Mereka telah melihat banyak orang mengejar harta, jabatan, kesuksesan, dan berbagai pencapaian. Namun pada akhirnya, banyak orang menyadari bahwa kebahagiaan tidak selalu berada pada apa yang berhasil dikumpulkan.
Kadang kebahagiaan justru terasa ketika masih dapat duduk bersama orang tua.
Makan bersama.
Berbincang.
Bercanda.
Mendengar nasihat.
Atau sekadar melihat mereka tersenyum.
Islam menempatkan birrul walidain sebagai perkara yang sangat penting. Berbuat baik kepada orang tua bukan hanya tentang memberikan sesuatu kepada mereka, tetapi juga tentang membangun akhlak: berbicara dengan lembut, menghormati, membantu, mendoakan, dan menjaga perasaan mereka.
Maka pesan simbah sebenarnya sangat sederhana:
Jangan sibuk mengejar dunia sampai lupa kepada orang yang dahulu berjuang agar kita bisa mengenal dunia.
Selagi Masih Ada Waktu
Orang tua tidak meminta kita menjadi sempurna.
Mereka mungkin hanya ingin melihat anaknya hidup baik, menjadi manusia yang berakhlak, dan tidak melupakan mereka.
Jika hari ini ayah dan ibu masih ada, jangan ragu untuk menunjukkan kasih sayang.
Jika mereka tinggal jauh, teleponlah.
Apabila mereka berada di dekat kita, temuilah.
Jika mereka sedang membutuhkan bantuan, bantulah.
Jika pernah menyakiti hati mereka, mintalah maaf.
Dan jika mereka telah tiada, jangan berhenti mengirimkan doa.
Sebab pada akhirnya, nasihat simbah tentang berbakti kepada orang tua bukanlah sekadar nasihat untuk satu generasi.
Ia adalah pelajaran yang terus diwariskan dari satu zaman ke zaman berikutnya:
Hormati orang tua selagi masih ada. Sayangi mereka selagi masih bisa dipeluk. Dengarkan mereka selagi masih bisa berbicara. Dan doakan mereka selamanya.
Karena waktu tidak pernah kembali, tetapi kebaikan yang kita berikan kepada orang tua dapat menjadi kenangan yang akan tinggal jauh lebih lama.
Semoga Allah memberikan kita hati yang lembut untuk menghormati orang tua, kesabaran untuk merawat mereka, dan kesempatan untuk membalas kasih sayang mereka dengan kebaikan. Aamiin.
