Ilmu yang Bermanfaat: Mengapa Mengajarkan Kebaikan Bisa Menjadi Amal Jariyah?
Simbah dulu mungkin tidak punya banyak buku. Tidak punya akun media sosial. Tidak pernah membuat konten edukasi atau menulis panjang di internet.
Tapi coba ingat-ingat.
Berapa banyak nasihat Simbah yang sampai sekarang masih kita ingat?
“Kalau punya ilmu, jangan disimpan sendiri.”
“Kalau bisa membantu orang, ya bantu.”
“Atine kudu apik, ojo mung pinter.”
Nasihat-nasihat sederhana seperti itu kadang baru terasa maknanya setelah kita dewasa.
Ternyata, apa yang terajarkan orang tua dan Simbah kepada kita bukan sekadar kata-kata. Sebagian menjadi bekal hidup yang terus kita gunakan sampai hari ini.
Dalam Islam, ilmu yang bermanfaat memang memiliki kedudukan istimewa. Bahkan, ilmu yang terus memberikan manfaat kepada orang lain dapat menjadi salah satu amal yang pahalanya tetap mengalir setelah seseorang meninggal dunia.
Jadi, kalau kita punya ilmu yang baik, jangan buru-buru merasa tidak penting.
Bisa jadi, ilmu sederhana yang kita bagikan justru menjadi bekal kebaikan yang panjang.
Ilmu yang Bermanfaat Itu Seperti Apa?
Ilmu yang bermanfaat tidak selalu harus ilmu yang sulit.
Tidak harus punya gelar tinggi.
Tidak harus menjadi ustaz, guru, atau orang yang terkenal.
Ilmu yang bermanfaat adalah pengetahuan yang membawa kebaikan dan berfungsi untuk hal yang baik.
Mengajari anak membaca Al-Qur’an, misalnya.
Mengajarkan anak untuk berkata jujur.
Membantu teman memahami pelajaran.
Mengajari seseorang keterampilan yang bisa berfungsi untuk mencari nafkah.
Memberi tahu cara menggunakan teknologi kepada orang yang belum paham.
Bahkan pengalaman hidup yang kita dapat setelah melewati berbagai kesalahan juga bisa menjadi pelajaran bagi orang lain.
Yang penting, apa yang kita sampaikan benar dan memberikan manfaat.
Sebab ilmu itu bukan soal terlihat pintar di depan orang lain. Ilmu seharusnya membuat hidup menjadi lebih baik.
Pahala yang Tidak Berhenti Setelah Kita Pergi
Ada satu hadis Rasulullah ﷺ yang sering kita dengar.
“Apabila manusia meninggal dunia, terputus amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”
Hadis tersebut riwayat dari Imam Muslim dalam Shahih Muslim nomor 1631.
Pesannya sederhana, tetapi dalam sekali.
Ketika manusia meninggal dunia, kesempatan untuk beramal secara langsung berakhir. Namun, ada amal tertentu yang manfaatnya masih bisa terus berjalan.
Salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat.
Mengapa?
Karena ilmu bisa berpindah dari satu orang ke orang lain.
Kita mengajarkan sesuatu kepada seseorang. Ia kemudian mengamalkannya. Bisa jadi, ia kemudian mengajarkannya lagi kepada orang lain.
Kebaikan pun berjalan dari satu orang ke orang berikutnya.
Seperti menanam pohon.
Kita mungkin hanya menanam satu bibit. Tetapi ketika pohon itu tumbuh, buahnya bisa ternikmati banyak orang.
Begitu pula ilmu.
Tidak Harus Menunggu Jadi Orang Hebat
Sering kali kita merasa belum pantas mengajarkan sesuatu.
“Ilmuku masih sedikit.”
“Aku juga masih banyak salah.”
“Bukan siapa-siapa, kok mau ngajari orang?”
Perasaan seperti itu wajar.
Tetapi jangan sampai membuat kita berhenti berbagi kebaikan yang memang sudah kita ketahui.
Kalau kita tahu sesuatu yang benar dan bermanfaat, sampaikan dengan rendah hati.
Seorang kakak bisa mengajari adiknya.
Orang tua bisa mengajari anaknya.
Teman bisa membantu teman.
Tetangga bisa berbagi pengalaman.
Orang yang lebih dulu belajar bisa membantu orang yang baru mulai.
Tidak harus menunggu menjadi sempurna untuk melakukan kebaikan.
Yang penting, jangan mengajarkan sesuatu yang kita sendiri tidak tahu kebenarannya.
Kalau belum yakin, cari tahu dulu.
Simbah mungkin akan bilang, “Ojo asal ngomong.”
Nasihat sederhana, tetapi relevan sekali di zaman sekarang.
Zaman Sekarang, Ilmu Bisa Menyebar ke Mana-Mana
Dulu, kalau ingin berbagi ilmu, mungkin harus bertemu langsung.
Sekarang berbeda.
Satu tulisan bisa terbaca ribuan orang.
Satu video bisa tertonton dari berbagai daerah.
Satu pesan WhatsApp bisa diteruskan berkali-kali.
Media sosial membuat ilmu bisa menyebar dengan sangat cepat.
Ini tentu menjadi kesempatan yang baik untuk berbagi kebaikan.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh terlupakan: semakin mudah informasi menyebar, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk memastikan kebenarannya.
Apalagi kalau menyangkut agama.
Jangan hanya karena judulnya menarik kemudian langsung terbagikan.
Jangan hanya karena ada tulisan “kata Rasulullah” lalu kita percaya begitu saja.
Kalau sumbernya tidak jelas, lebih baik berhenti sebentar dan mencari tahu.
Sebab niat berbagi kebaikan harus barengi dengan kehati-hatian.
Jangan sampai ingin mendapatkan pahala, tetapi justru ikut menyebarkan informasi yang keliru.
Mulai dari Rumah
Kalau ingin meninggalkan ilmu yang bermanfaat, sebenarnya kita tidak perlu pergi jauh-jauh.
Mulailah dari rumah.
Ajarkan anak untuk mengucapkan terima kasih.
Ajarkan untuk meminta maaf ketika salah.
Kemudian ajarkan untuk menghormati orang yang lebih tua.
Ajarkan doa-doa sederhana.
Ajarkan membaca Al-Qur’an.
Lalu ajarkan bahwa membantu orang lain tidak harus menunggu kaya.
Hal-hal seperti itu mungkin terlihat kecil.
Namun, kebiasaan yang tertanamkan sejak kecil bisa menjadi bekal yang terbawa seseorang sepanjang hidupnya.
Mungkin anak kita nanti akan mengajarkan hal yang sama kepada anaknya.
Dari sinilah kebaikan bisa terus berlanjut.
Ilmu Bukan untuk Membuat Kita Terlihat Pintar
Ada satu hal yang juga perlu teringat.
Berbagi ilmu bukan ajang untuk menunjukkan bahwa kita lebih pintar daripada orang lain.
Kalau setelah punya ilmu kita justru senang merendahkan orang, mungkin ada sesuatu yang perlu terperbaiki dari cara kita memahami ilmu itu sendiri.
Ilmu seharusnya membuat kita semakin rendah hati.
Semakin banyak tahu, semakin sadar bahwa masih banyak yang belum kita ketahui.
Karena itu, ketika mengajarkan sesuatu, tidak perlu merasa paling benar. Sampaikan dengan bahasa yang baik. Jika ada perbedaan pendapat, pahami dengan bijak.
Tujuannya bukan memenangkan perdebatan.
Tujuannya adalah memberikan manfaat.
Jangan Lupa Amalkan
Ilmu yang hanya berhenti di kepala belum tentu membawa perubahan.
Kita tahu pentingnya jujur, tetapi apakah kita sudah berusaha jujur?
Selain itu, Kita tahu pentingnya bersedekah, tetapi apakah kita sudah mau berbagi?
Kita tahu pentingnya menjaga lisan, tetapi apakah kita sudah berhati-hati ketika berbicara?
Karena itu, ilmu sebaiknya tidak berhenti pada “tahu”.
Ada proses setelahnya:
Belajar, memahami, mengamalkan, lalu berbagi.
Ketika ilmu teramalkan, manfaatnya terasa dalam kehidupan. Ketika kemudian terbagikan kepada orang lain, manfaatnya bisa semakin luas.
Meninggalkan Jejak yang Baik
Pada akhirnya, kita semua akan pergi.
Harta yang terkumpul akan ditinggalkan.
Jabatan akan berakhir.
Nama mungkin perlahan terlupakan.
Tetapi kebaikan yang pernah kita tanam bisa saja tetap tumbuh.
Mungkin ada anak yang masih mengingat nasihat ayahnya.
Terkadang ada murid yang masih menggunakan ilmu dari gurunya.
Mungkin ada seseorang yang kehidupannya berubah karena pernah mendapatkan satu nasihat sederhana dari kita.
Kita mungkin tidak tahu ke mana ilmu itu akan berjalan.
Dan justru di situlah indahnya berbagi ilmu.
Kita tidak perlu melihat hasil akhirnya untuk tetap berbuat baik.
Simbah mungkin tidak pernah mengatakan istilah “amal jariyah” setiap kali memberikan nasihat.
Tetapi banyak nasihat orang-orang terdahulu sebenarnya mengajarkan hal yang sama: kalau punya kebaikan, jangan berhenti di diri sendiri. Teruskan kepada orang lain.
Ilmu yang bermanfaat bisa menjadi salah satu cara meninggalkan jejak kebaikan.
Tidak harus ilmu yang besar.
Tidak harus dilakukan di depan banyak orang.
Bisa dimulai dari rumah, dari keluarga, dari teman, bahkan dari satu orang yang kebetulan membutuhkan bantuan kita.
Ajarkan apa yang kita tahu. Pastikan kebenarannya. Amalkan dalam kehidupan. Lalu biarkan kebaikan itu berjalan dari satu orang ke orang lainnya.
Karena kita tidak pernah tahu, mungkin satu ilmu sederhana yang kita bagikan hari ini akan terus menjadi manfaat bahkan ketika kita sudah tidak ada.
Dan bukankah indah, kalau setelah kita pergi, masih ada kebaikan yang tetap berjalan atas apa yang pernah kita ajarkan?
