Cara Memeriksa Informasi Resmi agar Tidak Mudah Terjebak Hoaks
Di era digital, informasi dapat menyebar dalam hitungan detik. Satu pesan WhatsApp, unggahan media sosial, video pendek, atau tangkapan layar dapat diteruskan dari satu orang ke orang lain tanpa terketahui apakah informasi tersebut benar atau tidak.
Kondisi ini membuat masyarakat perlu memiliki kebiasaan memeriksa informasi resmi sebelum percaya dan membagikannya. Apalagi, informasi yang beredar di internet sering kali menggunakan judul yang menarik perhatian, potongan video, foto lama, hingga narasi yang terbuat seolah-olah berasal dari lembaga resmi.
Hoaks bukan hanya dapat menimbulkan kesalahpahaman. Informasi yang tidak benar juga dapat memicu kepanikan, merugikan seseorang, merusak reputasi, atau membuat masyarakat mengambil keputusan berdasarkan informasi yang keliru.
Cara Memeriksa Informasi Resmi agar Tidak Mudah Terjebak Hoaks
Lalu, bagaimana cara memeriksa informasi resmi agar tidak mudah terjebak hoaks?
-
Jangan Langsung Percaya pada Judul
Langkah pertama adalah tidak langsung mempercayai judul atau kalimat pembuka sebuah informasi.
Judul yang terbuat secara berlebihan biasanya terancang untuk membuat pembaca penasaran atau memancing emosi. Contohnya adalah penggunaan kata seperti “Wajib Tahu!”, “Sebarkan Sekarang!”, “Pemerintah Resmi Mengumumkan!”, atau “Besok Akan Terjadi Hal Besar!”.
Judul seperti itu belum tentu salah, tetapi harus menjadi alasan untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Baca isi informasi secara menyeluruh dan cari tahu apakah ada sumber yang jelas di balik klaim tersebut.
-
Periksa Siapa yang Menyampaikan Informasi
Informasi resmi seharusnya dapat tertelusuri kepada sumber yang memiliki kewenangan.
Jika sebuah informasi mengatasnamakan kementerian, pemerintah daerah, lembaga negara, sekolah, perusahaan, atau organisasi tertentu, jangan hanya percaya karena nama lembaga tersebut tercantumkan.
Cari kanal resmi lembaga yang bersangkutan.
Misalnya, jika ada informasi yang mengatasnamakan pemerintah, periksa situs resmi atau akun media sosial resmi instansi tersebut. Jangan menganggap sebuah akun sebagai akun resmi hanya karena menggunakan logo atau nama lembaga.
Pencantuman logo dapat ditiru dengan mudah, sedangkan informasi dari kanal resmi lebih mudah terverifikasi.
-
Cek Situs Resmi Pemerintah
Salah satu cara paling sederhana untuk memeriksa informasi adalah mencari pengumuman di situs resmi.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), misalnya, menyediakan kanal informasi dan klarifikasi mengenai berbagai isu hoaks yang beredar. Saat ini, situs resminya juga memuat berbagai laporan klarifikasi hoaks yang sedang beredar di masyarakat.
Jika mendapatkan informasi tentang kebijakan pemerintah, bantuan sosial, layanan publik, aturan baru, atau pengumuman tertentu, lakukan pencarian langsung menggunakan kata kunci utama informasi tersebut.
Jangan hanya mengandalkan tautan yang terkirim melalui grup WhatsApp atau media sosial.
-
Bandingkan dengan Beberapa Sumber
Informasi yang penting sebaiknya tidak terperiksa hanya dari satu sumber.
Gunakan mesin pencari untuk mencari apakah informasi serupa diberitakan oleh sumber lain. Lihat apakah terdapat pemberitaan dari media yang kredibel atau penjelasan langsung dari lembaga yang berkaitan.
Pencarian lintas sumber merupakan salah satu cara yang teranjurkan dalam literasi digital untuk membantu mengetahui konteks sebuah informasi.
Jika hanya ada satu unggahan anonim yang mengklaim sesuatu sementara tidak ditemukan informasi pendukung dari sumber terpercaya, sebaiknya jangan terburu-buru menyimpulkan bahwa informasi tersebut benar.
-
Perhatikan Tanggal dan Konteks Informasi
Salah satu bentuk informasi menyesatkan yang sering ditemukan adalah penggunaan berita atau foto lama untuk menjelaskan kejadian baru.
Karena itu, selalu periksa tanggal publikasi.
Sebuah foto yang benar-benar pernah terjadi belum tentu berkaitan dengan peristiwa yang sedang terbicarakan. Demikian juga dengan video lama yang dapat diberikan narasi baru sehingga terlihat seolah-olah baru saja terjadi.
Periksa kapan foto, video, atau berita pertama kali terpublikasikan dan apa konteks aslinya.
-
Jangan Mudah Percaya pada Tangkapan Layar
Tangkapan layar atau screenshot sering berfungsi sebagai “bukti” dalam sebuah pesan berantai.
Padahal, gambar tersebut dapat terpotong, teredit, atau terlepaskan dari konteks aslinya.
Jika menerima screenshot yang mengatasnamakan pejabat atau lembaga tertentu, cari pernyataan aslinya. Jangan berhenti pada gambar yang terkirimkan.
Misalnya, jika terdapat screenshot pernyataan seorang pejabat, coba cari nama pejabat tersebut beserta kata kunci pernyataannya di mesin pencari atau kanal resmi lembaga terkait.
-
Periksa Foto dan Video yang Digunakan
Foto dan video dapat memberikan kesan bahwa sebuah informasi benar, tetapi visual juga dapat berfungsi di luar konteks.
Periksa apakah gambar tersebut memang berasal dari peristiwa yang tersebutkan.
Untuk video, perhatikan lokasi, tanggal, pakaian, tulisan, kendaraan, hingga kondisi lingkungan. Detail kecil terkadang dapat membantu menemukan bahwa sebuah video sebenarnya berasal dari peristiwa yang berbeda.
Dalam beberapa kasus klarifikasi hoaks, lembaga pemerintah juga menjelaskan bahwa video yang beredar ternyata merupakan konten lama atau konten hiburan yang kemudian diberikan narasi berbeda.
-
Gunakan Situs Cek Fakta
Jika masih ragu, manfaatkan situs pemeriksa fakta.
Beberapa sumber yang pernah terekomendasikan dalam edukasi pemerintah antara lain TurnBackHoax dan CekFakta. Keduanya dapat berfungsi untuk mencari apakah suatu klaim atau isu sudah pernah diperiksa.
Namun, tetap perhatikan siapa yang melakukan pemeriksaan dan bukti apa yang digunakan. Membaca hasil cek fakta secara lengkap lebih baik daripada hanya melihat label “hoaks” atau “fakta”.
-
Waspadai Informasi yang Memancing Emosi
Hoaks sering kali terbuat dengan bahasa yang membuat pembaca marah, takut, panik, atau terlalu bersemangat.
Semakin kuat emosi yang muncul, semakin besar kemungkinan seseorang langsung membagikan informasi tanpa memeriksanya.
Karena itu, ketika mendapatkan pesan yang membuat emosi meningkat, berhenti sejenak.
Tanyakan kepada diri sendiri:
- Siapa sumber informasi ini?
- Kapan informasi tersebut dibuat?
- Apakah ada sumber resminya?
- Apakah media lain memberitakan hal yang sama?
- Apakah foto atau videonya sesuai dengan konteks?
- Apakah informasi tersebut sudah terperiksa oleh situs cek fakta?
Lima menit untuk melakukan pemeriksaan dapat mencegah informasi keliru menyebar lebih jauh.
-
Jangan Sebarkan Jika Belum Terverifikasi
Prinsip paling sederhana dalam menghadapi informasi mencurigakan adalah jangan langsung membagikannya.
Tidak ada kewajiban untuk menjadi orang pertama yang menyebarkan sebuah kabar.
Jika informasi ternyata benar, biasanya masih ada kesempatan untuk membagikannya setelah mendapatkan sumber yang dapat terpercaya. Sebaliknya, jika informasi ternyata salah, pesan yang sudah terlanjur tersebar dapat sulit tertarik kembali.
Karena itu, kebiasaan “saring sebelum sharing” menjadi bagian penting dari literasi digital.
Bedakan Fakta, Opini, dan Klaim
Selain memeriksa sumber, penting juga membedakan antara fakta, opini, dan klaim.
Fakta adalah informasi yang dapat terperiksa dan dukungan oleh bukti. Opini merupakan pendapat seseorang terhadap suatu persoalan. Sementara klaim adalah pernyataan yang masih perlu terbuktikan kebenarannya.
Ketiganya dapat muncul dalam satu unggahan.
Jangan menganggap sebuah pendapat sebagai fakta hanya karena tersampaikan dengan bahasa yang meyakinkan.
Menjadi Pembaca yang Lebih Kritis
Memeriksa informasi resmi bukan berarti harus mencurigai semua berita yang muncul di internet. Tujuannya adalah membangun kebiasaan membaca secara lebih kritis dan bertanggung jawab.
Survei Status Literasi Digital Indonesia 2023 menunjukkan bahwa pencarian melalui mesin pencari menjadi salah satu cara yang banyak berfungsi responden untuk mengklarifikasi informasi, sementara sebagian responden juga mencari informasi melalui situs resmi pemerintah dan layanan pemeriksaan hoaks.
Pada akhirnya, masyarakat memiliki peran penting dalam menghentikan penyebaran informasi palsu.
Ketika menerima sebuah informasi, jangan hanya bertanya, “Benarkah ini?” tetapi lanjutkan dengan pertanyaan, “Dari mana informasi ini berasal dan apa buktinya?”
Kebiasaan sederhana tersebut dapat membantu kita menjadi pengguna internet yang lebih cerdas.
Cara memeriksa informasi resmi agar tidak mudah terjebak hoaks dapat termulai dari langkah sederhana: jangan langsung percaya, baca informasi secara lengkap, periksa sumber, cari kanal resmi, bandingkan dengan sumber lain, perhatikan tanggal dan konteks, periksa foto atau video, gunakan situs cek fakta, serta jangan membagikan informasi yang belum terverifikasi.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan untuk berhenti sejenak dan melakukan verifikasi merupakan bentuk tanggung jawab. Bukan hanya untuk melindungi diri sendiri, tetapi juga untuk menjaga keluarga, teman, dan masyarakat dari penyebaran informasi yang keliru.
Saring sebelum sharing, periksa sebelum percaya.
